KWSS ( Kerukunan Wanita Samarinda Seberang ) Peduli Korban Gempa & Tsunami Palu Sulteng, Beri Bantuan Pengungsi Di Samarinda.

Flora Sasuwuk, S.Pd

Samarinda, BARABERITA.COM  Sabtu, 20/10/2018  Bertempat di Serkretariat KWSS Kelurahan Masjid Samarinda Seberang Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur, pada hari  sabtu 20/10/2018 pukul 13.10 wita, KWSS ( Kerukunan Wanita Samarinda Seberang mengadakan kegiatan rutin yaitu ceramah agama, ceramah agama disampaikan ustadz Robby Arasyid yang pada intinya “ Allah SWT tidak pernah memberi cobaan kepada hamba dan mahluknya tanpa terkandung maksud di dalamnya, seperti cabaan yang dialami saudara-saudara kita di Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya, Sejak gempa dan tsunami melanda Palu, Donggala, Sigi dan daerah sekitarnya di Sulawesi Tengah pada 28 September pukul 18.02 wita lalu, lebih dari 2.000 jenazah telah ditemukan. Namun, jumlah pasti korban meninggal dunia amat mungkin tidak akan diketahui mengingat sejumlah daerah permukiman tersapu tsunami dan likuifaksi sehingga mengubur banyak orang. Saya melihat di tv-tv  berita-berita media online, saat itu sebagian penduduk sedang sibuk mempersiapkan festival di pantai untuk merayakan hari ulang tahun Kota Palu.

Tjut Nya Dien Bersama Ustadz Robby Al Rasyad

Lapak-lapak pedagang sudah berjajar di sepanjang pantai, siap menjual beragam penganan, mulai dari camilan gorengan hingga mi, makanan siap saji, saat matahari mulai tenggelam sehingga teriknya perlahan pudar, berganti dengan sejuknya malam, namun gusti Allah SWT berkehendak lain, suasana yang dulunya ramai dengan hiruk pikuknya warga yang ingin menyaksikan pesta perayan Ulang Tahun Kota Palu tiba-tiba berubah jadi berantakan akibat gempa bumi 7.4 SR dan disapu tsunami, suara warga tidak bisa didengar dengan jelas ada yang berteriak “ Allahu Akbar, Subhanalloh, Lahawulla walaquata Illah billah, ada yang berteriak lari…..!! awas tsunami, naik…!! awas ombak, hanya dalam hitungan detik semua luluh lanta, itulah sedikit kejadian yang bisa saya lihat dan baca atas musibah tersebut. Ibu-ibu yang hadir di Masjid ini dan keluarga korban bencana alam dari Palu yang ada ditengah-tengah kita, Alhamdulillah ini bukti kemurahan Allah SWT, ibu-ibu korban yang ada ditengah-tengah kita merupakan wujud kecintaan Allah kepada hambanya, patut kita syukuri semua ini dan kita jadikan bahan renungan dalam menjalani hidup kedepan.

[read more=”Selengkapnya…..” less=”Tampilkan Sedikit”]

Dalam acara tersebut diserahakan sejumlah dana kepada keluarga korban yang selamat dan mengungsi ke Samarinda, bantuan diserahkan oleh Halima 52 tahun seksi sosial mewakili ketua KWSS ( Kerukunan Wanita Samarinda Seberang ) Hj. Rusmayani Muchiar, disaksikan oleh Hj, Sarwina Sekretaris KWSS, sumbangan diterima Flora Sasuwuk, S.Pd yang berprofesi sebagai guru SD, Flora didampingi Tjut Nya Dien  yang juga korban gempa bumi selamat. Sekretaris KWSS Hj. Sarwina, ” Sumbangan atau bantuan ini yang ke dua sebelumnya kami sudah mengirimkan bantuan berbentuk bahan dan pakaian lewat tim TNI yang berangkat, total bantuan saat sebesar Rp.15 Jt dan kali ini kami menyumbang korban yang ada di 3 Kelurahan yaitu Keluran Baga, Kelurahan Masjid dan Kelurahan Tenun Samarinda Seberang, harapan kami sumbangan alakadarnya dari anggota WKSS bisa meringankan beban keluarga korban yang mengungsi ke Samarinda.”

Flora Sasuwuk, S.Pd 37 thn“ Alhamdulillah, saya memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, semoga amal ibadah ibu-ibu KWSS mendapat ganjaran balasan berkah yang berlimpah dari gusti Allah SWT, kami berusaha untuk tidak berlama-lama dalam pengungsian namun keadaan yang membuat kami harus berada dilikungan saudara-saudara kami di Samarinda ini, kami mohon dukungan DOA kiranya bangunan tempat tinggal kami dan keluarga segera direlokasi dan kami bisa menjalani hidup kami sehari-hari.” Hal yang sama menjadi harapan Tjut Nya Dien 50 thn, “ Saya ingin segera kembali ke Palu, saya ingat Suami dan anak-anak, kemanakan serta tetangga saya di Petobo, saya tidak ingin berlama-lama disini, ada dua anak saya terpisah dengan saya mengungsi ke Makassar dan samapai sekarang mereka masih di Makassar, mereka selau bertanya kapan mami kembali ke Palu supaya kita sama-sama satu keluarga tinggal dalam satu kompleks, kesedihan yang sama juga dialami 3 kepala keluarga yang mengungsi pada tanggal 03 oktober ke Samarinda.”  Tjut menambahakan dan berharap kepada warga kiranya jangan selalu bertanya tentang kejadian tanggal 28 september 2018 tersebut karena kami tidak mau trauma ini berkepanjangan, semoga apa yang mereka alami menjadi peringatan buat semua umat manusia. Tutup alumni SMP Negeri Kauditan Kabupaten Minahasa dan Alumni SMA Negeri 2 Bitung Kota Bitung.

Laporan : Arimin JW – Djolis W. Tongka

[/read]

follow :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *