28 Februari 2021

Baret Pasukan Khusus TNI, untuk Memperoleh Harus Bertaruh Nyawa, Miring Kiri-Kanan Beda Arti

Jakarta, BARABERITA.COM  Selasa 31/07/2018 Setiap satuan tentara di seluruh dunia memiliki baret untuk penanda satuan. Pemakaian baret bisa menunjukkan kualifikasi pasukan yang bersangkutan. Misalnya, pasukan terjun payung Inggris Parachute Regiment yang populer berkat kemampuannya bertempur di berbagai medan perang dikenal pula sebagai pasukan Setan Merah (Red Devil).

Sebutan Setan Merah itu berasal dari baret berwarna merah yang dikenakan setiap personel Parachute Regiment. Warna merah baret Parachute Regiment melambangkan keberanian dan kemudian banyak menginspirasi pemakaian baret berwarna serupa di satuan-satuan militer dunia termasuk Indonesia.

Satuan pendiri Kopassus Mayor Idjon Djanbi, yang latar belakangnya merupakan veteran pasukan payung Belanda dan pernah bergabung dengan pasukan payung Sekutu 82nd Airborne Division dalam PD II, mengenakan baret merah. Dengan latar belakang itu maka setelah dibentuk, Kopassus yang juga merupakan pasukan yang memiliki kualifikasi airborne (terjun payung) secara resmi mengenakan baret merah sebagai ciri khas satuannya.

Namun, seiring berkembangnya jumlah satuan-satuan di lingkungan TNI dan Polri pemakaian baret diupayakan memiliki warna khas masing-masing meskipun ada juga satuan yang memiliki warna baret yang sama atau mirip dengan satuan lainnya. Misalnya, selain Kopassus, pasukan Kopaska dan Penerbangan Angkatan Udara TNI AD juga mengenakan baret warna merah.

Pemakaian warna baret yang berwarna mirip atau bahkan sama itu sebenarnya bisa memunculkan protes dari satuan lainnya yang lebih dahulu memakai baret berwarna tertentu. Tapi ‘konflik warna baret’ itu biasanya bisa diselesaikan setelah Mabes TNI turun tangan. Taruhan nyawaBaret yang dikenakan oleh satuan TNI tertentu terutama yang berasal dari pasukan khusus memang bukan merupakan baret sembarangan karena untuk mendapatkannya harus bertaruh nyawa.

Misalnya, untuk mendapatkan baret merah kebanggaannya setiap personel Kopassus harus menjalani sekolah pendidikan komando yang berlangsung sangat keras dan disiplin serta bertaruh nyawa sekitar empat bulan. Pengambilan baret kadang harus merayap dulu di tebing tinggi yang terjal dan melalui perjuangan sangat berat. Oleh karena itu dengan latar belakang yang demikian berat untuk mendapatkan baret kebanggannya, setiap personel TNI sebenarnya merasa jengah jika melihat orang awam atau ormas-ormas tertentu yang dengan seenaknya mengenakan baret dan warnanya sama dengan yang dimiliki oleh satuan TNI.

Dalam pemakaiannya baret yang dikenakan oleh pasukan TNI juga ada aturannya tersendiri. Orang awam atau anggota militer kadang bisa mendapat baret kehormatan dari satuan TNI tertentu karena telah terbukti memiliki jasa-jasa yang luar biasa terhadap satuan TNI bersangkutan.

Miring kiri atau kanan

Secara umum baret miring ke kiri dikenakan pasukan TNI yang sedang bertugas menegakkan hukum seperti baret warna biru yang dikenakan anggota Polisi Militer. Sedangkan baret miring ke kanan dikenakan semua prajurit TNI yang menunjukkan kesiagaan dan kondisi siap tempur. Tapi dalam pertempuran yang sesungguhnya, baret akan disimpan dalam saku atau di balik baju dalam dada dan digantikan topi lapis baja standar TNI yang tahan peluru.

Sejarah baret

Baret merupakan sebuah topi berbentuk bulat, pipih dan lembut. Biasanya terbuat dari tenunan, wol rajutan tangan, katun rajutan, flanel wol atau serat akrilik. Produksi massal baret dimulai pada abad ke-19 di Perancis dan Spanyol, negara-negara yang tetap terkait.

Biasanya, baret dipakai sebagai bagian dari banyak seragam unit militer dan polisi di seluruh dunia, serta oleh organisasi lainnya. Kepraktisan baret telah lama membuatnya menjadi salah satu item pakaian seragam militer dan seragam lainnya.

Laporan : Rommy Sumampuw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *