Menatap Sisa Euforia Piala Dunia, Takmir Masjid At Taubah Gorontalo: Kemenangan Sejati Ada di Sajadah Subuh
GORONTALO – Baraberita.com – Sorak-sorai euforia Piala Dunia resmi usai. Panggung megah telah ditutup, trofi juara telah diangkat, dan para bintang lapangan hijau telah kembali ke klubnya masing-masing. Namun, di balik keriuhan pesta olahraga terbesar di jagat raya tersebut, ada sebuah refleksi mendalam yang ditinggalkan untuk umat Islam.
Sekretaris Takmirul Masjid At Taubah Lapas Kelas IIA Gorontalo, Yusar Laya, mengajak masyarakat untuk sejenak menepi dari sisa-sisa euforia dan merenungkan pesan tersirat di balik riuk panggung dunia tersebut.
”Piala Dunia telah berakhir, peluit panjang telah dibunyikan. Namun, pertanyaan terpentingnya adalah: apa yang tersisa untuk kita?” ujar Yusar Laya dalam keterangannya, edisi khusus Cahaya At Taubah.
Fenomena Menjelang Subuh yang Ironis
Yusar menyoroti pemandangan kontras yang terjadi selama ajaran turnamen berlangsung. Jutaan pasang mata rela terjaga hingga larut malam demi menyaksikan tim kesayangan bertanding. Kopi diseduh, hidangan disiapkan, dan sorak-sorai membahana di depan layar kaca menjelang pagi.
Namun, fenomena tersebut kerap menyisakan keiluan tersendiri. Tidak sedikit umat yang justru terlambat atau bahkan melewatkan ibadah shalat Subuh akibat rasa kantuk yang tak tertahan.
”Sungguh ironis. Ketika peluit wasit dibunyikan, kita begitu sigap. Namun saat azan Subuh berkumandang—panggilan dari Rabb semesta alam—kita justru memilih memejamkan mata,” tuturnya penuh keprihatinan.
Ia mengingatkan bahwa para bintang sepak bola yang diagungkan sama sekali tidak mengenal para penggemarnya. Mereka tidak akan hadir saat seseorang sakit, apalagi menemani di alam kubur. Sebaliknya, Allah SWT adalah Zat yang memberikan napas, mata untuk melihat, dan kesehatan hingga manusia bisa menikmati gelaran olahraga tersebut.
Menguji Keimanan di Waktu Efektif
Merujuk pada sabda Rasulullah ﷺ, Yusar mengingatkan bahwa shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan Subuh. Menurutnya, di dua waktu itulah kualitas keimanan seseorang benar-benar diuji.
Ia menegaskan, menyukai sepak bola atau mendukung tim favorit bukanlah sebuah dosa. Namun, garis batasnya menjadi jelas ketika kegemaran tersebut menggeser prioritas utama seorang hamba kepada Penciptanya.
”Jangan sampai kita hafal luar kepala jadwal kick-off pertandingan, tetapi lupa waktu janji bertemu dengan Allah dalam shalat Subuh,” tegasnya.
Kemenangan Hakiki Bukan Trofi Dunia
Kini, ketika trofi emas telah digenggam oleh sang juara dan riak turnamen mulai mereda, Pintu Taubat dinilai masih terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin memperbaiki diri.
Yusar berharap, usainya pesta sepak bola dunia ini menjadi momentum balik bagi umat Islam untuk mempertebal semangat memakmurkan masjid.
”Kemenangan yang sesungguhnya bukanlah berhasil mengangkat trofi di dunia, melainkan kelak menghadap Allah dengan hati yang bersih dan amal yang diterima. Di hadapan Allah nanti, yang ditanyakan bukanlah tim mana yang kita dukung, melainkan bagaimana kita menjaga shalat wajib kita,” pungkasnya. (Wallahu a’lam bish-shawab)
Laporan : Suprianto Ali
