Kisah Pilu AKBP Alsensius Tumeleng, Rumah & Harta Benda Tenggelam di Petobo Akibat Gempa Bumi 7,4 SR

Bitung, BARABERITA.COM Selasa, 09/10/2018  Kisah perjalanan hidup dari seorang putera Nusa Utara ( Kabupaten Sanger Provinsi Sulawesi Utara ) Sungguh  membuat kita yang mendengar atau melihatnya pasti ikut sedih, bapak dari 3 orang anak ini, banyak menerima cobaan dari Tuhan, dia mengisahkan awalnya dia tugas di Polda Sulawesi Utara Tengah ( Poda Sulutteng ) tahun 1982 lulus Bintara pangkat sersan dua, penempatan tugas pertama di Polres Sanger Talaud, tahun 1990 pindah ke Polres Minahasa ditugaskan di Polsek Bitung Tengah, tahun 1994 lulus secapa di Sukabumi, saat itu Polda Sulutteng dilebur menjadi Polda Sulut dan Polda Sulteng, selesai pendidikan secapa tahun 1995, IPDA Alsensius Tumeleng ditepatkan di Polres Toli-Toli, selanjutnya pindah ke Polres Poso, saat itu Poso masih bergejolak, dari sana kisah pilu mulai dialami Aso panggila akrabnya, Aso jauh dari keluarganya, bukan tidak mau ajak keluarga namun situai daerahnya yang tidak menunjang, kurang kondusif, bertahun-tahun keadaan ini dia jalani, Aso juga pernah bercerita saat kerusuhan Poso di Daerah Lombogia dan Kasiguncu dia pernah 1 minggu tidak ganti baju, karena Poso saat itu siaga satu, “ Kami tugas 24 jam yang kami ganti hanya baju dalam saja itupun cuci jemur ganti satu pasang besoknya atau dua hari kemudian baru ganti, namun saya tidak penah mengeluh untuk minta pindah, karena jadi Polisi adalah panggilan hati, 36 tahun saya berdinas di Kepolisian mungkin baru sekarang bermohan untuk pindah, hal ini saya lakukan karena rasa trauma mendalam kalau melihat atau mengingat kejadian tanggal 28 September 2018 pukul 18.02 wita, Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya dilanda gempa 7.4 skala rechter, disusul tsunami.”

Pemimpin Redaksi BARABERITA.COM ( Arimin J. Wumu ) waktu kejadian gempa 28/09/2018 berusaha menghubungi ponsel AKBP Alsen Tumeleng, selama seminggu tidak bisa tembus, hal ini pemred lakukakan karena komunikasi kedua sahabat ini sangat intens, kebetulan keduanya sama-sama dari Kota Cakalang Bitung, tanggal 7 oktober 2018 nemor hp Alsensius sudah aktif dan Arimin berhasil menghubunginya, AKBP Alsensius Tumeleng menjelaskan bahwa Hpnya hilang saat gempa bumi, ini baru urus di Grapari dan menambahkan bahwa dia saat ini tugas di SPN (Sekolah Polisi Negara) Mamboro Palu dengan jabatan sebagai Gadik dan foto yang dikirim ke redaksi atas permintaan pemred foto dengan pangkat Kompol karena AKBP Alsensius Tumeleng tidak punya lagi foto yang pangkat AKBP, foto pangkat Kompol juga diambil dari hp anaknya tinggal di kota Bitung ! pemred sarankan AKBP Alsensius untuk foto baru dengan pangkat AKBP namun hal itu tidak bisa dipenuhi karena baju dinas satu pun sudah tidak ada,  selanjutnya Alsen ( Aso )  mengisahkan kejadian sebagai berikut, “ Pada hari Jum’at jam 17.00 wita tidak berada di rumah karena menghadiri acara pesta pernikahan dari keluarga kurang lebih 5 km dari rumah kami,  karena  kota Palu sudah dilanda gempa bumi dan tsunami serta lumpur kami tidak berani lagi kembali kerumah pada malam itu, dan gempa masih bergerak, dan berulang ulang selang beberapa menit, saat itu Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong listrik mati total,  nanti besoknya jam 15.00 wita saya mau pulang kerumah tapi tidak bisa tembus ke rumah karena jalan yang biasa kami lewati sudah tertutup dengan lumpur, dan saya mutar ke arah bandara Mutiara Sis Al Jufri bagian selatan sama juga jalan tertutup,  karena keinginan hati mau pulang ke rumah sangat besar, mengingat tugas sebab pasti warga membutuhkan bantuan polisi, akhirnya saya jalan  kaki ke tempat rumah saya, tetapi dari jarak 80 s/d 100 meter jalan menuju rumah saya sudah tidak ada sambungan lurusnya, rumah saya sudah tidak kelihatan lagi walaupun atapnya. Lalu saya mengajak beberapa orang warga untuk mendekati bekas rumah saya, Ternyata rumah,  kendaraan roda empat dan sepeda motor serta semua isi rumah, berkas berkas surat surat tenggelam dalam lumpur di BTN Petobo,  salah seorang keluarga saya hilang sampai hari ke 11 ini belum ada kabarnya, Sungguh peristiwa diluar dugaan kita, sebab kegiatan manusia di  kota Palu lumpuh total, kota Palu seperti kota mati berantakan tidak beraturan. Saya keluar dari kota Palu hanya dengan pakaian di badan, saat ini saya mengungsi ke Bitung, Saya sudah trauma dengan keadaan ini, mau pulang ke Palu sulit bagi saya, saya harus cari tumpangan hidup disana kurang lebih satu tahun, sebab Oktober tahun depan saya pensiun, saya mohon bantuan pak Arimin bisa bantu saya cari solusi pindah apalagi tahun depan sudah mau bebas tugas, Terakhir saya doakan tetangga saya di Perumahan Petobo yang belum ditemukan, segera ditemukan dan yang rumahnya tenggelam kiranya tabah menerima cobaan ini, Tuhan pasti punya rencana terindah dibalik semua ini,’ tutup Alsen Tumeleng.

Laporan : Sofyan Taib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *