Pasca Konflik Antarwarga di Tolikara, Pemerintah, Tokoh Masyarakat dan Polri Gelar Himbauan Perdamaian
Tolikara – PAPUA PEGUNUNGAN – Baraberita.com – Pemerintah daerah bersama unsur tokoh masyarakat dan Polres Tolikara menggelar kegiatan himbauan bersama sebagai upaya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat pasca terjadinya aksi saling serang antarwarga Distrik Woniki dan Distrik Nunggawi. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu (05/08/2026) di Pertigaan Tugu Salib, Kota Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan.
Kegiatan dihadiri oleh jajaran Polres Tolikara, di antaranya Kasat Samapta IPTU Eko Haryanto, Kasat Binmas IPDA Kasrim, Kasat Intelkam IPDA David Manalu, Kasiwas IPDA John Valentino Saroi, Kasubbag Bekpal IPDA Viktor Gebze, KBO Sat Samapta IPDA Jedikia Yarisetouw, KBO Sat Intelkam IPDA Alfred Arebo, serta Kaurmintu Sat Intelkam IPDA Lesmani Makaba. Kehadiran mereka turut didampingi sekitar 50 personel Polres Tolikara.
Turut hadir pula Ketua KNPI Kabupaten Tolikara Mekinus Kogoya, Ketua Klasis GIDI Wilayah Toli Pendeta Yeremias Wandik, S.Th., serta Kepala Suku Umum Kabupaten Tolikara Kitanggen Yikwa. Ketiga tokoh tersebut secara bergantian berdiri menyampaikan pesan perdamaian kepada masyarakat yang hadir di lokasi kegiatan.
Dalam penyampaiannya, Ketua KNPI Kabupaten Tolikara mengajak seluruh masyarakat untuk tidak lagi terlibat dalam pertikaian yang merugikan banyak pihak. Ia menegaskan bahwa seluruh masyarakat Tolikara sesungguhnya adalah saudara yang harus saling merangkul serta senantiasa mengedepankan persatuan di atas kepentingan golongan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Suku Umum Kabupaten Tolikara mengingatkan agar peristiwa saling serang yang baru saja terjadi tidak kembali terulang. Peristiwa itu diketahui telah menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat sekaligus mengganggu kelancaran aktivitas warga sehari-hari.
Ia kemudian mengajak seluruh warga untuk bekerja sama menjaga situasi tetap aman dan terkendali. Dengan demikian, kehidupan masyarakat dapat berjalan normal kembali tanpa rasa cemas dan takut akan terjadinya kekerasan baru.
Sementara itu, Ketua Klasis GIDI Wilayah Toli, Pendeta Yeremias Wandik, mengajak masyarakat untuk menjunjung tinggi nilai kasih, persaudaraan, dan kemanusiaan dalam setiap tindakan. Menurutnya, segala bentuk kekerasan hanya akan membawa penderitaan dan merusak kedamaian yang selama ini dijaga bersama.
Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa tindakan saling serang tersebut bertentangan dengan ajaran Tuhan yang menghendaki umat-Nya hidup rukun dan damai. Oleh karena itu, seluruh warga diharapkan kembali menyatukan hati dan menjauhi segala bentuk permusuhan.
Kapolres Tolikara, Komisaris Polisi Roberth Hitipeuw, melalui Kasat Binmas Polres Tolikara, IPDA Kasrim, dalam himbauannya menegaskan bahwa pihak kepolisian mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap tenang. Masyarakat diminta agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memicu terjadinya konflik lanjutan.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar bersama-sama menjaga situasi keamanan dan ketertiban yang aman dan kondusif. Jangan mudah terprovokasi maupun melakukan aksi balas dendam kepada sesama warga,” ujar IPDA Kasrim di hadapan warga.
Ia juga meminta agar setiap persoalan yang muncul diselesaikan melalui jalan musyawarah. Semua pihak diharapkan mampu saling menghargai perbedaan dan kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman demi terciptanya kedamaian yang sesungguhnya di Kabupaten Tolikara.
Usai penyampaian himbauan, para tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat bersama jajaran Polres Tolikara melaksanakan Aksi Patah Panah. Tindakan tersebut merupakan sebuah simbol adat yang secara resmi menandai berakhirnya konflik yang meletus pada 4 Agustus 2026.
Simbol itu sekaligus menjadi wujud komitmen bersama untuk mengakhiri perselisihan, menolak segala bentuk aksi kekerasan lanjutan, serta mempererat kembali ikatan persaudaraan yang sempat renggang di tengah masyarakat Kabupaten Tolikara. Seluruh rangkaian kegiatan berakhir dalam keadaan aman, tertib, dan tetap kondusif.
Laporan : Jenita Claudia
