Gunung Dukono Erupsi Sejak Beberapa Waktu Lalu, Tiga Pendaki Termasuk WNA Meninggal Dunia Terjebak
Halmahera Utara – MALUT – Baraberita.com – Gunung Dukono yang berada di wilayah Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, tercatat mulai mengalami aktivitas erupsi yang meningkat sejak beberapa hari terakhir. Letusan yang terus berlanjut hingga kini telah menimbulkan dampak fatal, salah satunya memakan korban jiwa dari kalangan pendaki yang sedang berada di kawasan puncak dan jalur pendakian.
Kondisi alam yang berubah drastis akibat semburan material vulkanik dan abu panas membuat sejumlah pendaki tidak dapat menyelamatkan diri tepat waktu. Akibat terjebak di tengah situasi bahaya yang terjadi sejak erupsi berlangsung, tiga orang pendaki dikonfirmasi meninggal dunia di lokasi kejadian.
Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, memberikan konfirmasi resmi terkait peristiwa nahas tersebut pada Jum’at, 8 Mei 2026. Ia menyampaikan identitas para korban yang menjadi korban keganasan alam Gunung Dukono, yang terdiri dari warga negara asing maupun warga negara Indonesia.
Dari data yang dihimpun pihak kepolisian, dua di antara korban meninggal adalah warga negara asing yang berasal dari Singapura. Sementara satu korban lainnya merupakan warga negara Indonesia yang lahir dan berdomisili di wilayah Jayapura, Papua, yang juga turut serta dalam kegiatan pendakian tersebut.
“Saya pastikan ada tiga orang yang meninggal dunia, yaitu 2 warga negara Singapura dan 1 warga lokal kelahiran Jayapura,” tegas AKBP Erlichson saat memberikan keterangan pers di kantor kepolisian setempat, memastikan kebenaran informasi yang beredar di masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, jenazah ketiga korban masih belum bisa dibawa turun dan masih berada di lokasi sekitar kawah serta jalur pendakian Gunung Dukono. Tim pencarian dan pertolongan gabungan belum bisa menjangkau titik keberadaan jenazah karena kondisi medan dan aktivitas gunung yang masih sangat berbahaya.
Menurut penjelasan Kapolres, musibah ini bermula ketika para korban terjebak di tengah kawasan gunung tepat saat letusan mulai terjadi. Erupsi yang berlangsung terus-menerus sejak hari-hari sebelumnya membuat akses keluar tertutup dan tidak ada ruang aman bagi mereka untuk menyingkir ke tempat yang lebih rendah.
Hambatan utama dalam proses evakuasi saat ini adalah masih tingginya potensi letusan susulan yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Aktivitas vulkanik yang belum mereda menyebabkan semburan abu, debu panas, dan material bebatuan masih kerap turun, sehingga sangat berisiko bagi keselamatan tim SAR yang bertugas.
Meski dihadapkan pada tantangan medan dan ancaman bahaya alam yang belum mereda, upaya penyelamatan tetap digencarkan secara maksimal. Pasukan gabungan yang terdiri dari unsur kepolisian, SAR, BPBD, dan relawan terus memantau situasi dan menunggu celah aman untuk segera menjemput jenazah korban.
“Upaya penyelamatan dan evakuasi terus dilakukan oleh tim gabungan di lapangan, kami berupaya secepat mungkin membawa ketiga jenazah turun, namun keselamatan tim juga menjadi prioritas utama,” ungkap AKBP Erlichson Pasaribu menutup keterangannya.
Laporan : Muhamad Yusni
