27 Februari 2021

“Benahi Mata Rantai Tata Niaga Kelapa Sawit”

TANA PASER, BARABERITA.COM  Jum’at 10/08/2018  Anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang terjadi saat ini di Indonesia  di antaranya  dirasakan petani kelapa sawit di Kabupaten Paser akibat boikot Uni Eropa terhadap crude pal oil (CPO) Indonesia,  menjadi perhatian besar  dan serius  Pemerintah Kabupaten Paser.

Bahkan,  Bupati Paser H Yusrinasyah Syarkawi tidak hanya melakukan fasilitasi pertemuan di antaranya  dengan petani kelapa sawit yang tergabung dalam forum petani kelapa sawit Kabupaten Paser dengan keluarganya beberapa kesepakatan, namun  juga saat melantik Ir Karoding sebagai Kadis Pertanian Paser, Yusriansyah secara khusus meminta mantan Asisten Ekonomi Setda Paser ini untuk melakukan pembenahan.

Menurut Bupati, Pertanian merupakan sektor yang terbesar dalam menopang PDRB Kabupaten Paser, di luar sektor pertambangan, dan merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar di daerah ini. “ Terkait dengan hal itu, saya tugasi saudara untuk membenahi mata rantai tata niaga kelapa sawit yang akhir-akhir ini menyita perhatian masyarakat karena rendahnya harga jual tandan buah segar,” pesan Bupati kepada Karoding yang menggantikan Boy Susanto sebagai Kadis Pertanian. Menurut Yusriansyah, tren penurunan harga TBS  kelapa sawit hingga saat ini masih berlangsung dan merugikan petani kelapa sawit di Kabupaten Paser.

“Saya sadar bahwa persoalan harga ini bukanlah persoalan dengan penyebab yang sederhana. Kompleksitasnya sangat tinggi. Tetapi dengan pencermatan yang mendalam terhadap akar masalah dan koordinasi yang intensif dengan semua pemangku kepentingan, saya berharap saudara mampu mengurai benang kusut persoalan ini,” tegas Yusriansyah saat melantik dan mengambil sumpah 156 Aparat Sipil Negara (ASN) di jajaran Pemkab Paser, Rabu (7/8) di Pendopo Bupati.

Seperti diwartakan media nasional, Perang Dagang antara Amerika Serikat dengan China berimbas langsung pada pembelian TBS  di tingkat petani.  Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto mengatakan bahwa harga TBS menurun secara drastis bahkan berada pada level meresahkan bagi para petani akibat dari perang dagang di level internasional.  “Bukan pembelian berkurang tapi harga turun. Sekarang harga sudah mencapai Rp800-Rp1000 per kg. Ini sudah meresahkan banget,” katanya kepada Bisnis pada Selasa, (11/7).

Menurutnya, akibat perang dagang antara AS dengan China terdampak langsung ke petani sawit. Dampak pada permintaan barang dari indonesia khususnya CPO itu berkurang, sedangkan produksi justru meningkat. “Kita sudah over produksi. Karena kebun luas, permintaan berkurang karena China terkena krisis akibat perang dengan US. Sehingga dampak pada permintaan barang dari indonesia khususnya CPO. Petani yang jadi kena imbasnya,” katanya.

Laporan : Evan RS. Lintang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *