10 Juni 2026

Aksi Pembunuhan Pendulang Emas di Pegunungan Bintang: Evakuasi Dipercepat, KKB Jadi Tersangka Utama

0
image

Pegunungan Bintang – PAPUA PEGUNUNGAN – Baraberita.com – Petugas gabungan dari berbagai unsur keamanan terus melaksanakan penanganan secara intensif terkait peristiwa pembunuhan yang menimpa sejumlah pendulang emas di Distrik Awimbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan. Hingga saat ini, upaya utama yang digarap aparat meliputi proses evakuasi korban, pencarian warga yang dilaporkan selamat, serta pengejaran aktif terhadap kelompok yang diduga menjadi pelaku tindak kejahatan tersebut.

Berdasarkan data sementara yang telah dihimpun dan diverifikasi di lapangan, jumlah korban yang meninggal dunia tercatat mencapai 10 orang. Angka tersebut dinilai belum final dan masih berpotensi bertambah, mengingat masih terdapat sejumlah pendulang emas yang dikabarkan bersembunyi di kawasan hutan sekitar lokasi kejadian dan belum dapat ditemukan keberadaannya.

Hasil investigasi awal beserta analisis terhadap rekaman video yang beredar di masyarakat mengarah pada dugaan kuat bahwa pembunuhan tersebut dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Batalyon Yamue. Kelompok ini diketahui berada di bawah pimpinan Ronald Hiluka atau yang lebih dikenal dengan nama Dejang Hiluka.

Kelompok pelaku diperkirakan beranggotakan sekitar 15 orang dengan persiapan persenjataan yang cukup berbahaya. Di antara perlengkapan senjata yang dimiliki, tercatat ada satu pucuk senjata jenis AR-15 serta sejumlah senjata api rakitan yang kerap digunakan dalam berbagai aksi keamanan yang mengganggu ketenteraman masyarakat.

Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 bergerak cepat dengan menjalin koordinasi erat bersama unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Boven Digoel. Kerja sama ini dilakukan guna mendukung kelancaran proses penyelidikan, pengamanan wilayah yang lebih luas, serta mempercepat tahapan evakuasi para korban.

Di samping itu, petugas juga terus melakukan pendalaman data terkait jaringan yang dimiliki oleh kelompok pelaku. Berbagai petunjuk dan bukti di lapangan dikumpulkan secara cermat dan sistematis, seluruhnya ditujukan untuk keperluan penegakan hukum dan pengungkapan fakta lengkap di balik peristiwa tersebut.

Meskipun lokasi kejadian secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang, akses yang paling dekat dan memungkinkan untuk dijangkau justru melalui wilayah Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis yang sangat berat dan dikelilingi kawasan hutan lebat yang sulit ditembus.

Karena kondisi medan yang sulit tersebut, proses evakuasi harus dilakukan dengan metode khusus, yaitu pembukaan jalur baru atau pembabatan hutan menuju titik lokasi kejadian. Upaya ini memakan waktu dan tenaga lebih besar, namun tetap dilakukan demi menjamin keselamatan dan kelengkapan penanganan korban.

Pos komando sementara dan titik kumpul proses evakuasi dipusatkan di Tanah Merah sebagai titik akses utama. Di lokasi ini, personel gabungan dari berbagai unsur terus bersiaga dan berupaya semaksimal mungkin untuk mempercepat tahapan pencarian serta pemindahan korban ke tempat yang lebih aman.

Kegiatan yang dilakukan tidak hanya terbatas pada evakuasi korban yang telah meninggal dunia. Petugas juga tetap memfokuskan perhatian pada pencarian dan penyelamatan bagi korban yang dinyatakan selamat, yang hingga berita ini ditulis masih dikabarkan berada dalam kondisi bersembunyi di tengah kawasan hutan.

Peristiwa pembunuhan terhadap para pendulang emas itu sendiri diketahui terjadi pada tanggal 18 Mei 2026. Lokasi kejadian berada di area hutan lindung yang juga menjadi tempat aktivitas penambangan di Distrik Awimbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan.

Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa seluruh personel yang diturunkan akan memaksimalkan setiap tahapan kerja, baik dalam proses evakuasi maupun penyelidikan. Langkah ini diambil guna memastikan situasi di lapangan tetap terkendali dan seluruh korban dapat segera ditemukan serta ditangani dengan tepat.

“Fokus utama kami saat ini adalah menyelamatkan korban selamat, mengevakuasi para korban meninggal dunia, serta melakukan pengejaran terhadap kelompok pelaku secara profesional dan terukur,” ujar Irjen Faizal di sela-sela pemantauan operasi, pada Jumat (22/05/2026).

Ia juga menambahkan bahwa kondisi medan yang berat menjadi tantangan terbesar dalam setiap proses penanganan di lapangan. Karena itu, seluruh personel yang bertugas diminta untuk tetap mengedepankan aspek keselamatan diri maupun rekan kerja dalam setiap pelaksanaan tugas yang diembankan.

Sementara itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga, mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh masyarakat. Ia meminta warga untuk tidak lagi melakukan aktivitas pendulangan maupun penambangan dalam bentuk apa pun di wilayah yang dinyatakan rawan konflik tersebut.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pendulangan atau penambangan ilegal di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi karena sangat berisiko terhadap keselamatan nyawa,” tegas Kombes Adarma.

Menurut penjelasannya, kawasan di sekitar lokasi kejadian merupakan wilayah hutan lindung yang secara aturan tidak memiliki izin maupun aktivitas penambangan resmi. Wilayah tersebut juga selama ini kerap menjadi lokasi terjadinya gangguan keamanan yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata.

Senada dengan hal itu, Kepala Satuan Tugas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap informasi yang beredar. Ia meminta warga tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum dapat dipastikan kebenarannya dan hanya mengikuti perkembangan informasi resmi yang dirilis aparat.

Ia menegaskan kembali bahwa aparat keamanan akan terus berupaya menjaga situasi agar tetap kondusif dan aman bagi masyarakat. Di saat yang sama, proses evakuasi serta penyelidikan di lapangan akan terus didorong agar berjalan secara maksimal dan tuntas.

“Kami meminta masyarakat tetap tenang, tidak mudah terprovokasi informasi yang belum terverifikasi, serta mendukung proses penanganan yang sedang dilakukan petugas di lapangan,” ujar Kombes Yusuf guna menenangkan suasana.

Pihak kepolisian juga mencatat bahwa kejadian serupa sebenarnya telah berulang kali terjadi di wilayah tersebut dengan tingkat risiko ancaman keselamatan yang sangat tinggi. Selain tidak berizin dan berada di kawasan lindung, wilayah tersebut kerap dijadikan lokasi aksi teror, penganiayaan, ancaman kekerasan, hingga pembunuhan.

Aksi-aksi kejahatan tersebut dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata dengan berbagai tujuan, salah satunya sebagai upaya menunjukkan eksistensi keberadaan mereka, baik di tataran nasional maupun internasional melalui pemberitaan yang muncul setelah kejadian.

Laporan : Atriani Luas 

 

follow :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!