Pembukaan Hari Doa Nasional 2026: Api Doa dan Penginjilan Menyala dari Balikpapan Menuju IKN dan Seluruh Bangsa

Balikpapan – KALTIM – Baraberita.com – Kegiatan Pembukaan Hari Doa Nasional Tahun 2026 secara resmi digelar di Gedung BSSC Dome Balikpapan, Jalan Ruhui Rahayu, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur. Acara berlangsung pada Kamis, 2 Juli 2026, mulai pukul 16.00 Wita dan dihadiri sekitar 1.300 peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Kegiatan tahun ini mengusung tema “Api Doa dan Penginjilan Terus Menyala dari IKN Kaltim ke Bangsa-Bangsa”. Tema tersebut dipilih sebagai wujud komitmen umat Kristiani untuk mengiringi perjalanan pembangunan Ibu Kota Nusantara serta menyebarkan damai dan pengharapan ke seluruh pelosok negeri maupun dunia.
Hadir dalam kegiatan ini sejumlah pejabat pemerintah, unsur TNI-Polri, tokoh gereja, serta perwakilan berbagai organisasi kemasyarakatan. Di antaranya Wakapolda Kaltim Brigjen Pol. Adrianto Jossy Kusumo, Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley, dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Kalimantan Timur A.F.F. Sembiring.
Turut hadir Bupati Tolikara Willem Wandik, Ketua Umum Panitia Penyelenggara Ibu Fanny Jossy Kusumo, serta Kapolresta Balikpapan Kombes Pol. Jerrold H.Y. Kumontoy. Selain itu hadir pula para Pejabat Utama Polda Kaltim dan Kepala Sub Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara pada Kejaksaan Negeri Balikpapan Erayon Hindani Sinaga.
Jajaran pimpinan gereja yang hadir meliputi Ketua Umum Sinode Gereja Bethany Nusantara Pdt. Dr. Samuel Kusuma, M.Th beserta istri Pdt. Dr. Fonny Kusuma, M.Pd, serta Ketua Umum Pusat Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Pdt. Tommy Lengkong, M.Th.
Turut hadir Ketua Majelis Pertimbangan PGLII Pusat Pdt. Dr. Ronny Mandang, perwakilan Badan Penyelenggara Kristen Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan Laosmauli Situmeang, M.Pd.K, serta Ketua Forum Komunikasi Persekutuan Beriman (FKPB) Dr. Abriantinus.
Hadir pula Ketua Himpunan Pemuda Katolik Indonesia (HIPAKAD) Charles Tobing, Ketua Persekutuan Adat Dayak Balikpapan Lampang Bilung, dan Ketua Pemuda MPS Gereja Bethany Pdt. August Wahyu Immanuel. Perwakilan unsur TNI dan Polri juga hadir, antara lain Pasi Intel Kodim 0905/Balikpapan Mayor Inf A.M. Aluy, Kadister Lanud Dhomber Balikpapan Mayor Tek Satria Yudha E.P., Pabanda Lid Sinteledam VI/Mlw Kapten Inf Iwan R, serta Paur Kesum BK Lanal Balikpapan Lettu Laut (K/W) dr. Hellen Susantine Restiany.
Kehadiran juga diisi oleh pemuka agama Kristen dari berbagai aras gereja, pengurus dan anggota Forum Umat Kristiani Indonesia (FKURI), pimpinan gereja, sinode, dan lembaga pelayanan dari berbagai daerah di Indonesia, serta jajaran Steering Committee Hari Doa Nasional 2026 dan tokoh gereja lainnya.
Perwakilan pemerintah pusat dan daerah, serta organisasi gereja yang tergabung dalam Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) juga turut hadir. Organisasi tersebut meliputi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia, Persekutuan Gereja-gereja, Lembaga-lembaga Injili Indonesia, Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia, Persekutuan Baptis Indonesia, Bala Keselamatan, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, dan Gereja Ortodoks Indonesia.
Acara dimulai dengan tarian selamat datang Leleng, dilanjutkan dengan penampilan lagu pujian dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Doa pembukaan dipimpin oleh Romo Dr. Aloysius Purwa Hadiwardoyo, MSF bersama delapan pimpinan aras gereja nasional.
Rangkaian acara selanjutnya diisi dengan penampilan seniman pasir Ronal Sard Artist, tarian Nusantara, serta ibadah pujian dan penyembahan. Penampilan khusus juga dibawakan oleh penyanyi rohani Sari Simorangkir, Andy Ambarita, dan Grace Ephipani.
Acara dilanjutkan dengan laporan ketua panitia, berbagai sambutan, serta pembukaan secara simbolis. Rangkaian kegiatan ditutup dengan tarian tamborin bertema Wonderland Indonesia, menyanyikan lagu Bagimu Negeri, dan foto bersama seluruh peserta.
Dalam pesan rohani kebangsaan, Ketua Majelis Pertimbangan PGLII Pusat Pdt. Dr. Ronny Mandang, M.Th menuturkan bahwa kesatuan antargereja terus tumbuh pesat sejak penyelenggaraan Forum Kristen Global di Manado pada tahun 2011. Pada momentum tersebut, berbagai denominasi gereja dari seluruh dunia berkumpul dan saling memulihkan hubungan yang terputus berabad-abad lamanya.
Dari semangat kesatuan itulah kemudian lahir FUKRI yang tidak hanya bergerak dalam bidang doa dan penginjilan, tetapi juga peduli terhadap kehidupan berbangsa, perdamaian, persatuan, dan pelestarian lingkungan. Sejak dideklarasikan, FUKRI telah menyelenggarakan berbagai kegiatan penting di antaranya Konferensi Pekabaran Injil di Berastagi tahun 2018 serta Deklarasi Damai di Rumah Doa Segala Bangsa Papua tahun 2021.
Tanggal 5 Juli kemudian ditetapkan sebagai Hari Doa Nasional karena memiliki makna historis berlakunya Undang-Undang Dasar 1945. Perjalanan penyelenggaraan sebelumnya telah berlangsung di Sentani Papua, Medan, dan kembali ke Sentani pada tahun lalu dengan semangat menyebarkan api doa ke seluruh penjuru dunia.
Pdt. Ronny Mandang mengingatkan bahwa panggilan utama gereja adalah memberitakan Injil. Doa tidak mengenal batas denominasi, latar belakang sosial, maupun cara penyampaiannya, karena Tuhan mendengar setiap doa yang dipanjatkan dengan hati yang tulus dan iman yang teguh.
Ia juga mengajak seluruh umat tidak gentar memberitakan Injil karena kekuatan sejati datang dari Roh Kudus. Tidak semua persoalan bangsa dapat diselesaikan dengan aturan maupun kekuatan semata, sehingga doa menjadi kebutuhan mutlak bagi bangsa Indonesia dan para pemimpinnya.
Keberadaan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur diharapkan menjadi simbol pemersatu seluruh elemen bangsa tanpa terkecuali saudara-saudara di Indonesia Timur dan Papua. Semoga Indonesia terus dipenuhi kemuliaan, kasih, dan Injil Kristus sampai kedatangan-Nya kembali.
Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara Ibu Fanny Jossy Kusumo, S.H melaporkan bahwa peserta hadir dari 525 titik wilayah di seluruh Indonesia mulai dari Papua hingga Sumatera, serta disertai tamu khusus dari Selandia Baru, Korea Selatan, Amerika Serikat, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Hari Doa Nasional merupakan inisiatif bersama delapan aras gereja nasional yang tergabung dalam FUKRI. Penyelenggaraan tahun ini di Kalimantan Timur menjadi kehormatan sekaligus tanggung jawab besar bagi seluruh masyarakat Balikpapan.
Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kota Balikpapan, Otorita IKN, Polda Kaltim, serta dukungan dari berbagai pihak lain. Seluruh rangkaian kegiatan akan berlangsung selama empat hari di tiga lokasi berbeda, yaitu Balikpapan, Bukit Doa Nusantara, dan kawasan IKN.
Fanny Kusumo menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya dibangun melalui infrastruktur dan teknologi, melainkan juga karakter, integritas, serta nilai-nilai moral yang kokoh. Oleh karena itu, seluruh umat diharapkan senantiasa menjaga Pancasila, UUD 1945, keutuhan NKRI, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Sinode Gereja Bethany Nusantara Pdt. Dr. Samuel Kusuma, M.Th menyampaikan rasa syukur atas kehadiran peserta dari berbagai bangsa. Hal ini membuktikan bahwa tema kegiatan telah terwujud nyata sejak hari pertama pelaksanaan.
Ketua Umum PGLII Pdt. Tommy Lengkong, M.Th menambahkan bahwa Hari Doa Nasional bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum menyatukan hati bagi damai dan kemajuan bangsa. Pembangunan IKN bukan hanya soal fisik, melainkan juga pembangunan rohani dan persatuan seluruh elemen bangsa.
Perwakilan Wakil Presiden Republik Indonesia menyambut baik penyelenggaraan kegiatan ini sebagai momentum memperkuat iman dan kerukunan. Ia juga mengapresiasi peran aktif umat Kristiani dalam menjaga persatuan serta memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat melalui berbagai bidang pelayanan.
Selama kegiatan berlangsung, pengamanan dipimpin langsung oleh Kapolsek Balikpapan Selatan Kompol Abu Sangit, beserta jajaran personel kepolisian. Acara berakhir pukul 24.00 Wita dengan kondisi situasi yang aman, tertib, dan penuh sukacita.
Kegiatan ini diharapkan dapat semakin mempererat persaudaraan antarsesama umat beragama, memperkuat toleransi, serta menjadi landasan spiritual bagi pembangunan bangsa yang berkelanjutan di masa depan.
Laporan : Obid Setiawan
