Rentetan Gempa Tektonik Mengguncang Sulawesi Tengah, Infrastruktur Publik Dilaporkan Rusak
Kejadian tektonik ini sempat memicu kepanikan warga di beberapa kabupaten dan kota akibat getaran yang dirasakan cukup kuat dan terjadi secara beruntun.
Guncangan utama yang paling dirasakan oleh masyarakat terjadi pada pukul 10.27 WIB dengan kekuatan Magnitudo 6,7.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa pusat gempa atau episenter terletak di darat, tepatnya pada koordinat 42 kilometer arah tenggara Kota Palu. Karena bersumber di kedalaman yang cukup dangkal yaitu 10 kilometer, energi gempa merambat dengan cepat dan menghentak permukaan tanah di sekitarnya.
Dampak guncangan dari gempa utama ini dilaporkan meluas hingga ke beberapa wilayah administratif di sekitarnya. Masyarakat di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, hingga Kabupaten Tojo Una-Una merasakan getaran yang sangat kuat hingga membuat mereka berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Getaran juga dilaporkan meluas hingga ke wilayah Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, Pasangkayu, Gorontalo, hingga Luwu Utara.
Kepanikan massal sempat melanda fasilitas kesehatan di pusat kota, salah satunya di Rumah Sakit Samaritan Palu. Sesaat setelah guncangan hebat terjadi, para petugas kesehatan langsung bergegas mengevakuasi para pasien. Pasien dievakuasi menggunakan kursi roda maupun tempat tidur menuju area halaman terbuka di luar gedung untuk mengantisipasi potensi runtuhnya struktur bangunan akibat gempa susulan.
Kuatnya guncangan bermagnitudo 6,7 ini mulai menunjukkan dampak kerusakan pada sejumlah fasilitas umum dan gedung pemerintahan di beberapa titik. Di Kota Palu, kerusakan infrastruktur dilaporkan menimpa Jembatan 3 Palu yang berada di ruas Jalan Kimaja-Hj. Hayun. Demi keselamatan warga, pihak berwenang langsung mengeluarkan imbauan tegas agar masyarakat menghindari dan tidak melewati akses jembatan tersebut karena kondisi strukturnya yang membahayakan.
Kerusakan bangunan publik juga melanda sektor pendidikan, di mana plafon Auditorium Universitas Tadulako dilaporkan runtuh akibat guncangan lateral yang kuat. Tidak hanya fasilitas pendidikan, beberapa akomodasi komersial seperti Hotel Best Western Coco Palu dan Hotel Santika turut melaporkan adanya kerusakan ringan. Sejumlah bagian dinding dan ornamen interior bangunan dilaporkan retak atau terlepas, yang memaksa pengelola hotel melakukan evakuasi mandiri bagi para tamu.
Dampak kerusakan bergeser ke wilayah Kabupaten Sigi yang lokasinya lebih dekat dengan pusat gempa. Di area pusat pemerintahan, plafon Gedung Kantor Bupati Sigi mengalami kerusakan cukup parah dan sebagian lantainya dilaporkan retak. Laporan yang lebih krusial dari lapangan juga menyebutkan adanya beberapa rumah warga di Sigi yang ambruk hingga menyebabkan warga setempat dilaporkan tertimbun reruntuhan bangunan.
Selain kerusakan struktural pada bangunan, gempa dangkal ini juga memicu kerusakan pada akses transportasi darat antardaerah. Jalur logistik dan transportasi darat yang menghubungkan wilayah menuju Napu dilaporkan putus total akibat tertutup material longsor dan rekahan tanah yang lebar. Putusnya jalur ini menjadi fokus perhatian segera karena berpotensi menghambat mobilitas warga serta penyaluran bantuan darurat ke wilayah pelosok.
Pasca-gempa utama tersebut, pemantauan terhadap aktivitas seismik di sekitar lokasi episenter terus dilakukan secara intensif. Hanya berselang sebelas menit kemudian, tepatnya pada pukul 11.38 WITA, gempa susulan pertama yang signifikan tercatat dengan kekuatan Magnitudo 4,5. Rangkaian pelepasan energi berlanjut pada pukul 12.48 WITA dengan aktivitas tektonik susulan berkekuatan Magnitudo 4,0 yang berpusat di 45 kilometer timur laut Sigi.
Hingga pukul 14.00 WITA, BMKG mencatat setidaknya terjadi 9 kali aktivitas gempa bumi susulan. Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kini terus melakukan kaji cepat untuk mendata total kerusakan rumah tinggal, infrastruktur jalan, serta memastikan penanganan korban luka di lapangan. Warga diminta tetap waspada, menghindari bangunan yang retak, dan selalu memantau perkembangan resmi melalui aplikasi Info BMKG.
