Dua Hotspot Terpantau di Riau, 283 Personel Gabungan Padamkan Karhutla di Rimbo Panjang
Screenshot
Kampar – RIAU – Baraberita.com – Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau terus diintensifkan oleh pihak berwenang. Hingga Selasa (25/08/2026), jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau sejak pagi tercatat sebanyak dua titik, dan keduanya berada di lokasi yang sama.
Fokus utama pemadaman saat ini berada di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Di lokasi tersebut, sebanyak 283 personel gabungan telah dikerahkan untuk melakukan pemadaman sekaligus pendinginan pada lahan gambut yang terdampak kebakaran.
Personel yang diturunkan terdiri dari berbagai unsur. Sebanyak 153 personel berasal dari jajaran Polri, 45 personel dari Brimob, 30 personel dari TNI, 18 personel dari BPBD, 18 personel dari Manggala Agni, serta 19 personel dari sejumlah perusahaan yang ikut mendukung operasi pemadaman tersebut.
Kapolres Kampar, AKBP Boby Putra, menyampaikan bahwa seluruh personel gabungan kemudian dibagi menjadi sepuluh regu. Pembagian ini dilakukan agar proses pemadaman dan pendinginan di sejumlah titik yang masih mengeluarkan asap dapat berjalan lebih cepat dan terarah.
“Fokus kami sekarang memastikan seluruh bara yang masih tersimpan di dalam gambut benar-benar padam dan tidak kembali memunculkan api. Personel dibagi menjadi sepuluh regu agar penanganan bisa dilakukan secara lebih efektif,” ujar Boby di lokasi kejadian.
Berdasarkan pendataan sementara, luas lahan yang terdampak kebakaran di kawasan tersebut mencapai sekitar 13 hektare. Karakteristik tanah berupa gambut tebal dan ditumbuhi semak belukar membuat penanganan menjadi lebih sulit dibandingkan lahan biasa.
Kondisi tersebut menyebabkan proses pendinginan membutuhkan penanganan yang sangat intensif. Pasalnya, bara api pada lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan tanah dalam waktu yang cukup lama dan sewaktu-waktu dapat menyala kembali.
Dalam operasi pemadaman tersebut, tim gabungan mengerahkan berbagai jenis peralatan. Mulai dari mesin pompa, ministriker, nozzle, selang pemadam, water tank, hingga kendaraan pemadam kebakaran dikerahkan untuk memaksimalkan proses pendinginan.
Selain melakukan pendinginan pada areal yang masih mengeluarkan asap, petugas juga melakukan penyiraman dan blokade pada lahan yang belum terbakar. Langkah ini diambil untuk mencegah penjalaran api meluas ke area yang masih aman.
“Police line juga sudah kami pasang di lokasi. Untuk pemilik lahan maupun penyebab terjadinya kebakaran masih dalam proses penyelidikan. Penanganan di lapangan berjalan bersamaan dengan proses penegakan hukum,” ujar Boby menambahkan.
Hingga Selasa siang, asap masih terlihat pada beberapa bagian lahan yang terdampak. Oleh karena itu, proses pendinginan terus dilakukan secara berkelanjutan oleh para personel di lapangan.
Perubahan arah angin serta karakteristik tanah gambut yang tebal menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh personel yang bertugas. Meski demikian, situasi di sekitar lokasi kebakaran dalam keadaan aman dan terkendali.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Riau, Kombes Akmadi, menyatakan bahwa operasi di Rimbo Panjang merupakan bagian dari penanganan karhutla secara terpadu yang dilakukan Polda Riau bersama TNI, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan terkait.
Menurutnya, penanganan tidak hanya difokuskan pada kegiatan pemadaman api semata. Melainkan mencakup deteksi dini, patroli, pendinginan, pencegahan meluasnya kebakaran, hingga penegakan hukum terhadap pelaku yang diduga menyebabkan kebakaran.
“Prinsipnya adalah kolaborasi. Polri tidak bekerja sendiri. Ada TNI, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah, masyarakat, dan unsur perusahaan yang bergerak bersama,” jelas Akmadi.
“Semua sumber daya yang tersedia kita konsolidasikan untuk mempercepat pengendalian karhutla,” imbuhnya.
Akmadi juga mengatakan bahwa perkembangan jumlah hotspot terus dipantau secara berkala. Sejak Selasa pagi hingga pemantauan terakhir, tercatat dua titik panas di wilayah Riau dan keduanya berada pada lokasi yang sama.
“Dari pagi sampai pemantauan terakhir jumlah hotspot masih dua titik dan berada di lokasi yang sama. Perkembangan ini terus kami pantau. Penurunan jumlah titik panas tentu menjadi perkembangan positif, tetapi tidak boleh membuat kita lengah,” ujarnya.
Menurut Akmadi, Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan, telah menginstruksikan seluruh jajaran untuk mempertahankan kesiapsiagaan. Penanganan harus terus dilakukan selama masih ditemukan asap maupun bara di lapangan.
“Pesan Bapak Kapolda jelas, fokus tuntaskan pemadaman dan pendinginan. Selama masih ada asap dan bara, personel tetap bekerja. Targetnya bukan sekadar api padam di permukaan, tetapi memastikan tidak terjadi kebakaran kembali,” tegas Akmadi.
Polda Riau bersama TNI, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan terkait akan terus melakukan pemantauan hotspot dan titik api, patroli, serta operasi pemadaman dan pendinginan sebagai bagian dari upaya pengendalian karhutla secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Laporan : Agus Jumantoro
