25 April 2026

Tanggapan Akademisi Terhadap Isu Antraks & Penutupan Sementara Pasokan Sapi Dari Gorontalo Berdasarkan Surat Edaran Gubernur Sulteng

0
IMG-20240719-WA0001

Arfan Nusi, Mengajar di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN SULTAN AMAI Gorontalo 

Jujur saja, saya terkejut. Pesan beruntun masuk di group-group WA, tujuannya satu yakni ingin menunjukkan gambar foto surat edaran Gubernur Sulawesi Tengah tentang kewaspadaan terhadap penyakit antraks dan penutupan sementara pemasukan ternak ruminansia asal Gorontalo yang ditandatangi tanggal 1 Juli 2024.

Karena pemberitahuan yang bertubi-tubi itu, maka pasti akan melanggengkan sebuah kebenaran, apalagi surat edaran Gubernur, tidak main-main, siapa yang tidak percaya. Panik, iya..! saya langsung membayangkan bagaimana nasib salah satu keluarga saya yang belum lama ini menggeluti pekerjaan membawa sapi ke Kalimantan (Balikpapan) melalui Pelabuhan Anggrek Kwandang Gorontalo Utara, apakah harus terhenti ?? Karena siapapun tidak akan mau mengambil resiko.

Surat edaran Gubernur Sulteng benar-benar sakti, dapat mempengaruhi provinsi-provinsi tetangga, dan secara otomatis warga Kalimantan berpikir sepuluh kali menerima pasokan sapi dari Gorontalo.

Tidak lama kemudian muncul Pers Release dari Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, yang secara tegas menyatakan tidak ada kasus antraks di Gorontalo. Intinya aman makan daging sapi, kerbau, kambing atau domba.

Naah… vis a vis surat edaran Gubernur Sulteng dan Pers Release Kepala Dinas Pertanian Gorontalo membuat masyarakat terbelah, antara percaya dan tidak percaya. Saya lebih percaya pers release Kadis Pertanian, bukan karena saya orang Gorontalo yang secara moral mesti mendukung argumentasi pemerintahannya, tetapi lebih kepada kondisi empirik di Gorontalo.

Tampaknya masyarakat sehat-sehat saja mengkonsumsi daging sapi, bahkan sebelum berargumen, saya lebih dulu menghabiskan lima tusuk sate yang dibeli dari pusat kuliner di Limboto Kabupaten Gorontalo. Alhamdulillah sehat-sehat saja. Saya jadi kasihan sama sapinya yang dituduh penyakitan.

Secara geografis antara Gorontalo dan Sulteng bertetangga, satu daratan yang sama, bahkan tidak sedikit penduduk Sulteng adalah suku Gorontalo. Bahkan, bukti yang tak terbantahkan dalam rekaman sejarah, Raja Amai dari Gorontalo menikahi Putri Boki Uwotango dari Kerajaan Palasa Sulawesi Tengah. Pernikahan keduanya, merupakan tolak ukur Islam di Gorontalo tersebar.

Betapa penting hubungan itu menandakan bahwa hubungan antara Sulteng dan Gorontalo adalah hubungan dalam satu tarikan nafas.

Tapi saya berharap kehebohan surat edaran Gubernur Sulteng hanya sekadar miskomunikasi dan bersifat spontan dan tidak berlanjut pada kondisi yang membuat warga Sulteng dan Gorontalo panik dan Gubernur Sulawesi Tengah Segera menarik surat edaran tersebut disertai permohonan maaf kepada warga Gorontalo.

Harapan lain juga, hal ini tidak diseret-seret pada persoalan politik praktis apalagi sampai memporak-poranda lalu lintas perdagangan sapi dari Gorontalo ke Sulteng ataupun ke daerah lain.

Arfan Nusi
Asli Limboto Kabupaten Gorontalo, saat ini Mengajar di IAIN Sultan Amai Gorontalo.

Terlampir Surat Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo 

 

follow :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!