2 Februari 2026

Miris, Kota Bitung Wilayah Luas dan Padat Hanya Punya 3 Unit Pemadam Aktif – 1 Unit Keluaran 2002 Rusak

0
IMG_20260116_110338

Bitung – SULUT – Baraberita.com – Kota Bitung yang mencakup 6 kecamatan di daratan induk dengan wilayah yang luas dan pemukiman yang padat menghadapi kondisi yang mengkhawatirkan terkait penanggulangan kebakaran. Secara total terdapat 4 unit mobil pemadam kebakaran, namun satu unit keluaran tahun 2002 (usia lebih dari 23 tahun) tidak dapat beroperasi maksimal akibat rusak, sehingga hanya tersisa 3 unit yang masih aktif.

Armada yang beroperasi saat ini adalah Kendaraan DB 9113 C (tahun pembuatan 2013), Kendaraan DB 9114 C (2014), dan Kendaraan DB 9100 C (2015) – usianya telah melebihi 10 tahun dengan kelayakan operasional yang tidak maksimal. Saat ini terdapat tiga pos pemadam kebakaran yang tersebar di berbagai lokasi: Kantor Induk Sagerat, Kantor Walikota, dan depan Polsek Aertembaga.

Warga Kadoodan, Frangky (55 tahun), mengkritik pemilihan lokasi kantor induk dan menyampaikan himbauan kepada anggota DPRD. “Saya mengkhawatirkan lokasi kantor pemadam yang jauh dari pusat pemerintahan dan pemukiman terpadat. Jika terjadi kebakaran, waktu tempuh yang lama bisa membuat kerugian semakin besar. Saya mengimbau seluruh anggota DPRD Kota Bitung untuk segera mengusulkan kepada Pemkot agar memprioritaskan pengadaan armada pemadam baru dan membangun kantor yang representatif serta lokasinya lebih strategis,” ucapnya.

Jemmy L (47 tahun) menekankan perlunya Pemkot Bitung segera mengambil tindakan untuk menambah armada. “Sebagai kota industri dengan wilayah luas dan padat penduduk, hanya dilayani tiga armada tua – ini sungguh memprihatinkan. Idealnya setiap kecamatan punya satu unit standby agar tanggapan bisa lebih cepat. Sebaiknya kantor Induk pemadam kebakaran berada di tengah-tengah,lokasi bekas Terminal Mapalus paling cocok akan lebih mudah dijangkau dan menjangkau ke mana saja,” tuturnya.

Selain permasalahan armada dan lokasi, fasilitas kerja pegawai juga perlu diperhatikan. Ruangan kerja di kantor induk bersifat terbuka tanpa pemisah yang jelas, dan meskipun tidak semua karyawan kekurangan fasilitas, sebagian di antaranya belum memiliki meja serta kursi kerja yang layak. Hal ini disampaikan Yanty H. K (40 tahun) saat mengisi ulang tabung apar di kantor Sagerat.

“Sedih melihat musibah kebakaran beruntun dari bulan Desember 2025 sampai pertengahan Januari 2026, dengan penanganan yang belum optimal karena keterbatasan armada. Perlu adanya kemitraan dengan organisasi pemuda seperti Remaja Masjid, Pemuda Gereja, Saka Bhayangkara, Saka Bahari, serta berbagai organisasi masyarakat yang ada di setiap kelurahan. Saya mengusulkan agar Dinas Pemadam Kebakaran secara rutin melakukan pelatihan cara mengatasi kebakaran kepada seluruh mitra tersebut, sehingga dapat meningkatkan kapasitas penanganan kebakaran dari tingkat masyarakat juga. Saya juga melihat kondisi ruangan kerja yang terbuka dan beberapa pegawai belum mendapatkan meja serta kursi sendiri,” jelas Yanty.

Kecamatan di daratan utama Kota Bitung (diluar Pulau Lembeh) yaitu Aertembaga, Girian, Madidir, Maesa, Matuari, dan Ranowulu – seharusnya masing-masing memiliki unit armada dan pos standby agar tanggapan kebakaran bisa lebih efektif, dengan harapan pemerintah kota segera memperbaiki kondisi sarana dan prasarana yang ada serta meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat sistem penanggulangan kebakaran.

Laporan : Atriani Luas 

 

Loading

follow :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *