14 Juni 2026

Kapolri Ziarah ke Makam Marsinah, Laksanakan Groundbreaking Museum Pahlawan Buruh di Nganjuk

0
IMG-20251227-WA0010_639783

Nganjuk – JATIM – Baraberita.com – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah melakukan kunjungan ke Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dengan berziarah ke makam Pahlawan Nasional Marsinah di Kecamatan Sukamoro. Selama kunjungan tersebut, ia juga menyempatkan melihat rumah masa kecil dari tokoh buruh yang dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.

Kunjungan Kapolri ini merupakan penegasan terhadap undangan yang diberikan beberapa waktu lalu oleh Ibu Marsini, kakak kandung Marsinah. “Pertama terima kasih beberapa waktu lalu Ibu Marsini mengundang saya untuk hadir ke Nganjuk. Alhamdulillah hari ini kami bisa hadir,” ujar Sigit kepada wartawan pada Sabtu (27/12/2025).

Sesuai rencana, Sigit pertama-tama berziarah ke makam Almarhumah Marsinah. Setelah itu, ia sempat menengok rumah di mana Marsinah dibesarkan sebagai bentuk penghormatan terhadap jejak kehidupannya yang sederhana namun penuh perjuangan.

Usai berziarah dan melihat rumah masa kecil, Sigit melaksanakan acara Groundbreaking museum atau rumah singgah Pahlawan Nasional Marsinah di Desa Nglundo, Sukomoro, Nganjuk. Tempat tersebut akan dibangun khusus untuk mengenang segala bentuk perjuangan Marsinah bagi kelompok buruh di Indonesia.

“Dan Alhamdulillah baru saja sekaligus kita melaksanakan Groundbreaking untuk rumah singgah sekaligus museum nasional bagi Ibu Marsinah. Untuk mengenang beliau sebagai salah satu tokoh Pahlawan Nasional dari buruh,” jelas Sigit dalam sambutannya.

Kapolri berharap, museum yang akan dibangun ini bisa menjadi media untuk menyalurkan semangat yang diwariskan oleh Marsinah kepada kelompok buruh. Menurutnya, semangat itu harus terus hidup untuk mendorong pekerja memperjuangkan hak-haknya dengan cara yang benar.

“Mengawal dan memperjuangkan hak buruh. Namun tentunya saya selalu sampaikan bahwa laksanakan dengan baik, terukur sehingga pesannya sampai,” ujar Sigit. Ia menekankan bahwa perlindungan hak buruh harus seimbang dengan kondisi pembangunan, iklim investasi, dan pertumbuhan ekonomi yang tetap kondusif.

“Karena kita semua ingin bahwa semua tetap terjaga,” tambahnya, menjelaskan bahwa tujuan utama adalah menciptakan kesejahteraan yang merata tanpa mengorbankan salah satu pihak.

Di sisi lain, Sigit menegaskan bahwa pembangunan museum ini juga diharapkan bisa menghidupkan pertumbuhan perekonomian di Desa Nglundo. Ia berharap akan muncul Unit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bisa merasakan manfaat langsung dari keberadaan museum.

“Nanti akan ada kunjungan-kunjungan dari rekan-rekan buruh seluruh Indonesia. Tentunya ini juga akan menghidupkan UMKM, menghidupkan desa itu sendiri dan manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat yang ada di wilayah Desa Nglundo,” ucap Sigit.

Menurut Kapolri, museum Marsinah juga bisa menjadi salah satu tempat kebanggaan bagi warga setempat. Lantaran di desa tersebut, lahir, dibesarkan, dan dimakamkan seorang tokoh nasional yang dikenal seluruh Indonesia.

“Dan ini adalah aset Desa Nglundo, aset Kabupaten Nganjuk, aset Provinsi Jatim dan aset Indonesia, bagi teman-teman buruh seluruh Indonesia. Karena beliau pahlawan nasional,” tegas Sigit dengan tegas.

Sekali lagi, Sigit menekankan harapannya agar semua upaya ini bisa membawa kebaikan untuk mewujudkan Indonesia yang maju. “Semoga semua ini bisa membawa kebaikan untuk tujuan kita mewujudkan Indonesia yang maju, sejahterakan rakyatnya, dan menjadi negara besar dan kuat yang sejajar dengan negara lain,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, dan merupakan aktivis buruh yang dikenal karena perjuangannya membela hak-hak pekerja. Ia bekerja di PT. Catur Putra Surya (CPS) dan diculik serta dibunuh pada 8 Mei 1993, menjadikannya simbol perlawanan terhadap ketidakadilan di era Orde Baru.

Marsinah dikenang sebagai perempuan pemberani yang vokal menyuarakan hak buruh, dan kematiannya menjadi titik penting dalam perjuangan hak pekerja di Indonesia. Ia menerima Penghargaan Yap Thiam Hien pada 1993, dan pada 10 November 2025, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto, menjadikannya Pahlawan Nasional pertama yang lahir pasca-Kemerdekaan.

Laporan : Naila Abraara 

 

follow :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!