23 Juni 2026

Densus 88 Gelar Seminar dan Pelatihan, Dorong Ponpes Darusy Syahadah Boyolali Jadi Lebih Mandiri

0
7b0e3f90-a23e-43b3-872a-6095955b9ef1_621992

Boyolali – JATENG – Baraberita.com – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melalui Satgaswil Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan Seminar dan Peningkatan Kemampuan Menuju Ponpes Darusy Syahadah Berkelanjutan. Kegiatan ini berlangsung di Pondok Pesantren Darusy Syahadah, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, dan berjalan hingga Kamis (05/02/2026).

Program ini merupakan bagian dari pendekatan pencegahan berbasis pemberdayaan. Fokus utama kegiatan adalah penguatan kemandirian pesantren dan santri, baik dari sisi kapasitas sumber daya manusia maupun pengembangan ekonomi produktif.

Kasatgaswil Jawa Tengah Densus 88 Polri, Kombes Pol. Choirul Anam, menyampaikan bahwa kehadiran negara di lingkungan pesantren tidak hanya terkait dengan aspek keamanan. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan kapasitas masyarakat secara menyeluruh.

“Kegiatan ini bertujuan membekali santri dan pengelola pesantren dengan keterampilan praktis yang dapat menunjang kemandirian. Bekal mereka tidak hanya ilmu agama, tetapi juga keahlian yang relevan dengan kebutuhan dan peluang ekonomi,” ujar Choirul Anam.

Dalam pelaksanaannya, Densus 88 Polri tidak bekerja sendiri. Mereka menggandeng Kementerian Pertanian serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk mendukung terlaksananya program ini.

Materi pelatihan yang disampaikan mencakup berbagai bidang kewirausahaan yang dapat diaplikasikan secara langsung. Antara lain penanaman dan pengolahan kopi, pelatihan keterampilan barista, pelatihan pangkas rambut (barbershop), serta manajemen peternakan kambing perah.

Menurut Choirul Anam, program ini dirancang sebagai soft approach yang berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk memperkuat ketahanan sosial masyarakat, menciptakan lingkungan yang inklusif, serta mendorong mantan narapidana terorisme agar kembali berperan produktif di tengah masyarakat.

“Harapannya, pesantren dan para santri dapat mandiri secara ekonomi, sekaligus memperkuat nilai kebangsaan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat,” tambahnya.

Pimpinan Ponpes Darusy Syahadah, Ustadz Qosdi Ridwanullah, menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai program ini sejalan dengan kebutuhan pesantren dalam memperkuat unit usaha dan menjamin keberlanjutan operasional lembaga.

“Antusiasme guru dan santri sangat tinggi. Pelatihan ini memberi pengetahuan praktis yang bisa langsung dikembangkan. Ini sangat membantu upaya kami dalam membangun kemandirian pesantren,” ujarnya.

Saat ini, Ponpes Darusy Syahadah membina lebih dari 300 anak yatim dan dhuafa. Seluruh kebutuhan pendidikan dan keseharian mereka ditanggung penuh oleh pesantren. Penguatan unit usaha pesantren dinilai sangat penting sebagai penopang keberlanjutan pembinaan sosial tersebut.

Melalui program ini, Ponpes Darusy Syahadah diharapkan dapat menjadi salah satu contoh praktik baik pesantren yang mandiri secara ekonomi. Selain itu, pesantren juga diharapkan dapat berperan aktif dalam penguatan moderasi beragama dan kebhinekaan di wilayah Jawa Tengah.

Laporan : Agus Nugroho 

 

follow :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!