1 Februari 2026

Menkeu: Pergantian Deputi BI Bukan Penyebab Kelemahan Rupiah, Fundamental Ekonomi Tetap Baik

0
image (3)

JAKARTA – Baraberita.com – Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, Ph.D., menyatakan proses pergantian Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) bukan menjadi faktor penyebab kelemahan nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir.

Fluktuasi nilai tukar rupiah telah terjadi sejak sebelum kabar mengenai pergantian deputi muncul ke permukaan publik, termasuk informasi terkait Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai salah satu kandidat calon deputi.

“Rupiah melemah sebelum Pak Thomas ditunjuk sebagai salah satu calon, jadi itu bukan isu. Ada faktor lain,” ujarnya pada Kamis (22/01/2026).

Otoritas yang bertanggung jawab menjaga kestabilan nilai tukar rupiah telah bergerak secara terintegrasi, sehingga ia meminta publik untuk tidak perlu mengkhawatirkan pergerakan rupiah ke depan.

Pemerintah, termasuk Kementerian Keuangan, terus berupaya menjaga fundamental ekonomi secara menyeluruh. Hingga saat ini, fundamental perekonomian nasional dinilai cukup memadai untuk mencegah potensi krisis akibat pergerakan nilai tukar rupiah.

“Yang paling penting, sekarang bank sentral, Kementerian Keuangan, dan seluruh elemen pemerintah sepakat menjaga stabilitas nilai tukar. Kita percaya bank sentral punya strategi yang tepat,” ucap Menkeu.

“Nggak perlu khawatir rupiah akan memicu krisis ekonomi. Fundamental kita masih sangat baik, kebijakan sudah sinkron dengan otoritas moneter, ekonomi akan makin cepat pulih, investor akan masuk, rupiah akan menguat, dan pasar modal juga akan menguat,” jelasnya lebih lanjut.

Sementara itu, Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya telah menyatakan siap untuk membawa rupiah kembali menguat, dengan dukungan cadangan devisa (cadev) yang dinilai lebih dari cukup untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar.

Ia mengakui bahwa perkembangan nilai tukar belakangan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global maupun domestik. Dari sisi global, pergerakan rupiah terdampak dinamika geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), tingginya imbal hasil US Treasury, serta ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih kecil dari perkiraan.

Sedangkan dari sisi domestik, terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab, antara lain kebutuhan valuta asing yang besar dari sejumlah korporasi serta adanya persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur BI.

Perry Warjiyo menegaskan, bank sentral tidak segan-segan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui berbagai pasar, antara lain pasar offshore NDF (non-delivery forward), DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah cenderung bergerak melemah dan bahkan menyentuh titik terendah sepanjang masa (all-time low) hingga mendekati level Rp17.000 per dolar AS beberapa waktu terakhir.

Pada Selasa (20/01), rupiah berada di level Rp.16.945 per dolar AS, melemah sebanyak 1,53 persen (point to point/ptp) jika dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2025.

Namun, pergerakan rupiah menunjukkan tanda perbaikan. Pada Kamis (22/01/2026) pagi, nilai tukar rupiah telah kembali bergerak menguat menjadi Rp.16.929 per dolar AS.

Kenaikan tersebut mencapai sekitar 7 poin atau 0,04 persen bila dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan pada Rabu (21/01/2026) yang berada di level Rp.16.936 per dolar AS.

Laporan : Virginia D. Malalantang 

 

Loading

follow :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *