Jumat, Februari 28Informasi itu penting

Pengidap HIV/AIDSdi Kaltara Meningkat, Dinkes Gencar Lakukan Sosialisasi

Tanjung Selor – Kaltara,  BARABERITA.COM – Senin, 16/12/2019 – Angka pengidap HIV (human immunodeficiency virus) / AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) di Kalimantan Utara (Kaltara) menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan. Data di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara, hingga 2019 ini tercatat ada 1.101 orang di Kaltara yang terindikasi mengidap HIV. Angka meningkat drastis dibandingkan dengan data penderita pada 2010 yang hanya 116 orang.

Upaya pencegahan pun terus dilakukan. Utamanya melalui Dinkes Provinsi bersama kabupaten/kota yang secara intensif melakukan sosialisasi mengenai bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat.

DIkatakan oleh Agus Suwandy, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kaltara, sebelum Provinsi Kaltara terbentuk, penderita HIV/AIDS sudah cukup tinggi. Pada 2013, ditemukan sebanyak 116 kasus penderita AIDS/HIV dan cenderung mengalami peningkatan. Pada 2019, pada November 2019 tercatat ada 178 kasus penderita HIV/AIDS baru. Ironisnya lagi, 19 penderita di antaranya adalah ibu hamil.

“Jika ditotal, sejak tahun 2013 hingga November 2019, tercatat 1.101 kasus HIV/AIDS di Kaltara. Laki-laki lebih banyak, yaitu sekitar 55 persen. Sisanya 45 persen perempuan. Dari sisi usia, penderita HIV/AIDS di Kaltara rata-rata pada usia produktif, yaitu 25 hingga 45 tahun,” kata Agus Suwandy, yang didampingi Kasi Penyakit Tidak Menular Judianto Limbong pada saat mengisi acara Reka Suara di Radio Pelita, Kamis (12/12). Hadir juga, pada acara itu Abdul Khalid, Pengelola program KPA (Komisi Penanggualangan AIDS) Provinsi Kaltara.

Untuk meminimalisir penyebaran HIV/AIDS di Kaltara, Pemprov melalui Dinkes Kaltara, bersama Dinkes Kabupaten/Kota dan pihak-pihak terkaitnya, secara rutin memberikan sosialisasi tentang HIV/AIDS di berbagai kalangan. Termasu di kalangan pelajar.

Selain itu, dalam penangulangannya HIV/AIDS sendiri, Pemprov Kaltara dibantu oleh KPA yang belum lama ini dibentuk. “Upaya ke depan, caranya dengan menggencarkan upaya penurunan HIV/AIDS, meningkatkan kualitas hidup ODHA (orang dengan HIV/AIDS), serta menurunkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Salah satunya dengan memberikan sosialisasi tentang HIV/AIDS di kalangan pelajar,” ungkap Agus Suwandy.

Dijelaskannya, HIV bukan lagi penyakit mematikan, namun penyakit kronis yang bisa dikelola. Karena, ungkapnya, HIV sudah ada obatnya, meskipun terapi antiretroviral (ARV) tersebut harus dikonsumsi terus menerus agar mampu menekan perkembangan virus HIV.

“Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA masih melekat di masyarakat. Sebagian orang percaya bahwa HIV/AIDS bisa menular hanya dengan bersentuhan langsung dengan pengidapnya. Padahal anggapan tersebut salah, dan perlu diluruskan,” ungkapnya.

Untuk itu, masyarakat diminta tidak takut bergaul dengan penderita HIV karena virus HIV hanya dapat menular jika melalukan hubungan seks, transfusi darah, dan penggunaan jarum suntik secara bergantian. “Kalau cuma jabat tangan tidak akan tertular,” tegasnya.

Peduli terhadap diri sendiri dan keluarga, tegasnya, menjadi kunci utama tidak tertular HIV. Perlu memeriksakan kesehatan secara rutin ke rumah sakit. “Bagi yang sudah berkeluarga, harus setia pada pasangannya supaya terhidar dari virus HIV. Untuk generasi muda, jangan pakai narkoba, hindari seks bebas, karena aktivitas itu adalah gerbang penyebaran virus HIV,” tutupnya. (humas)

Laporan : Asrudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *