Yang Menarik dari SD Desa Uko & Swan Selutung

PEMKAB PASER TERUS UPAYAKAN PEMERATAAN PENDIDIKAN

Tanah Paser, BARABERITA.COM Jum’at 13/04/2018 Dua Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Muara Komam yakni SDN 017 di Desa Uko dan SDN 012 di Desa Swan Selutung yang sempat viral di media cetak dan media sosial yang kondisi bangunannya sangat memprihatinkan, ternyata dari itu semua, ada hal yang menarik. Yang jelas, kondisi di SDN 17 Uko dan SDN 012 Swan Selutung, hanyalah potret kecil dunia pendidikan yang ada di 139 desa di wilayah Kabupaten paling selatan di provinsi Kaltim ini. Masih ada beberapa kondisi serupa di daerah dusun dan desa pedalaman lainnya di wilayah Paser.

Menyangkut murid, SDN 17 Uko bisa dikatakan minim jumlah peserta didik. Pasalnya, gedung SDN yang  dibangun sejak 1982 ini, hanya memiliki siswa sebanyak 28 orang. Minimnya jumlah peserta didik yang dimiliki SDN 17 ini, ternyata sudah puluhan tahun terjadi. Untuk mendapatkan 10 murid saja dalam setiap ajaran baru, sekolah ini cukup kesulitan. Sehingga, untuk mencapai jumlah murid secara keseluruhan hingga 30 orang, selama ini hanya menjadi mitos.

Jika ditarik benang merahnya, ada beberapa faktor yang mungkin  menjadi penyebab minimnya jumlah murid yang dimiliki SDN 17 Uko. Pertama, praktis hampir secara keseluruhan, peserta didik yang bersekolah di SDN 17 merupakan anak-anak yang tinggal di desa tersebut dan berdasarkan data, jumlah penduduk Desa Uko hanya 317 orang. Jika mengandalkan peserta didik dari desa ini saja, memang sangat sulit sekolah ini bisa mendapatkan jumlah murid yang banyak. Sebab, ledakan penduduk tidak signifikan dibanding wilayah lain yang jumlah penduduk nya lebih banyak. Selain itu letak geografis Desa Uko berada di wilayah yang sangat dekat dengan ibu kota Kecamatan Muara Komam dengan kondisi jalan cukup baik.

Sementara untuk SDN 012 Swan Selutung, untuk mencapai desa paling ujung di kecamatan Muara Komam ini, jarak dari pusat ibu kota kecamatan mencapai 50 kilometer. Belum lagi, infrastruktur jalan menuju tempat ini kondisinya terbilang parah. Ketika hujan sangat sulit untuk dilalui kendaraan. Hal ini juga yang menyulitkan dan menjadikan warga enggan untuk mencapai daerah ini. Sehingga, pusat pendidikan, seperti halnya sekolah dasar hanya diakses oleh masyarakat setempat.

Menurut salah seorang pengajar SDN 012, sebelumnya desa Swan Selutung didominasi warga trasmigrasi dan pendatang dengan mata pencarian sebagai petani karet, berladang hingga karyawan perusahaan kayu di sekitar wilayah desa tersebut. Namun seiring SDA hutan berupa kayu habis, akhirnya perusahaan tutup, dan wargapun secara perlahan mulai mencari kegiatan lainya di luar desa Swan Selutung. “Dulu selain warga desa Swan Selutung sebagai petani, juga ada yang berkerja di  perusahaan. Seiring tutupnya perusahaan, warga mulai meninggalkan desa ini untuk mencari pekerjaan lain. Desa ini sekarang sangat sepi,” katanya.

Bagaimana tenaga pengajar di SDN 12 yang siswanya tercatat sebanyak 62 orang ini? Dari  beberapa tenaga guru yang ada, lebih banyak berstatus tenaga honorer. Selain itu, para guru selain mengajar di SDN 012, juga secara bergantian harus mengajar di SD kunjung desa Mului Kecamatan Long Ikis yang ditempuh 2 jam lebih dengan kondisi jalan rusak. Keberadaan guru honor di SDN 12 Swan Selutung diharapkan salah satu guru Joko Nurminto SPd untuk diangkat menjadi PNS. Alasannya, jika guru baru ditempatkan di desa ini, tidak bertahan lama karena faktor jarak desa yang cukup jauh dari ibu kota kecamatan.

“Kalau ada guru baru yang ditempatkan, mereka tidak betah. Akhirnya pindah. Rata–rata guru PNS di sini sudah bertugas lebih 10 tahun dan semuanya bukan asli desa Swan Selutung. Saat ini ada beberapa guru honor yang asli kelahiran desa ini, karena itu kami berharap, jika ada tes CPNS untuk tenaga guru, maka alangkah baiknya guru honor desa ini yang diutamakan karena mereka ada asli putra-putri desa Swan Selutung,” harapnya.

Melihat potret pendidikan yang ada  ini, setidaknya ada beberapa realita yang memaksa kita harus kembali membuka mata, untuk bersama-sama berperan ikut memajukan pendidikan. Pemkab Paser melalui Dinas Pendidikan selama ini terus melakukan upaya pemerataan kemajuan pendidikan di Bumi Daya Taka. Kepala UPT Satuan Dasar Pendidikan Muara Komam Muhammad mengatakan, pihaknya telah melakukan pendataan terhadap sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan serta mengkasifikasi tingkat kerusakannya dan selalu dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan termasuk melakukan usulan-usulan setiap pelaksanaan Musrenbang tingkat kecamatan hingga Kabupaten.

“Berdasarkan usulan kita, untuk SDN 017 tahun 2018 akan dilakukan pembangunan 3 Ruang Kelas Baru (RKB) dengan nilai Rp650 juta. Sedangkan untuk SDN 012 Desa Swan Selutung, mudah-mudahan masuk di 2019,” sebutnya. Terkait Infrastruktur jalan desa Swan Selutung dan termasuk jalan-jalan desa yang selama ini menjadi keluhan masyarakat, selama ini Pemkab Paser tidak pernah berdiam diri. Bahkan, Bupati Paser H Yusriansyah Syarkawi di beberapa kesempatan menegaskan, pemerintah daerah tidak pernah menutup mata bahwasanya masih cukup banyak sarana jalan desa dalam kondisi  rusak, dan kerusakan tersebut harus segera ditangani karena merupakan jalan yang selama ini menjadi jalur satu-satunya masyarakat desa untuk menuju ibu kota Kecamatan dan Kabupaten.

Yang jelas, selama ini Pemkab Paser menyadari ketersedian sarana jalan yang memadai tidak hanya untuk wilayah perkotaan saja, tetapi juga di daerah pedesaan. Sarana jalan yang memadai memiliki peran pentig dalam menopang aktifitas masyarakat termasuk kelancaran perekonomian. Ketika jalan rusak, maka aktifitas masyarakat akan menjadi kurang lancar.

Laporan : Evan R.S. Lintang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *