Kelenteng Seng Bo Kiong Bitung, Bisa Jadi Obyek Wisata

Bitung, BARABERITA.COM Jum’at 16/02/2018 Kelenteng Seng Bio Kiong adalah sebuah kelenteng Tao berukuran cukup besar dengan ornamen khas kelenteng yang indah. Lokasi kelenteng berada Jl. AA Maramis Kelurahan Pakadoodan Kecamatan Maesa Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara. Kelenteng ini merupakan tempat ibadah tiga lantai, yang dibangun pada tahun 2000 oleh Deny Sondak di atas tanah seluas 1.5 ha, membelakang bukit Zaitun dan menghadap ke arah Selat Lembeh yang berjarak 2,5 km atau 7 menit perjalanan ke arah Pusat Kota atau Pelabuhan Samudera Bitung.
Kelenteng Seng Bo Kiong ini. adalah satu-satunya tempat ibadah termegah di Sulawesi Utara, Tampak muka Kelenteng Seng Bo Kiong dengan dua pasang ular naga di wuwungan, sepasang naga kecil dan sepasang lagi berukuran lebih besar di belakangnya, menghadap mustika di tengahnya. Sepasang naga yang lebih besar lagi dengan detail relief elok melilit di pilar kiri kanan di dekat pintu masuk, sementara sepasang harimau putih berjaga di halaman, dan sebuah hiolo terbuat dari kuningan berada di depan anak tangga kelenteng.

Hiolo yang berada di halaman dengan hiasan beberapa ekor naga itu adalah tempat bagi para pendoa untuk menancapkan batang hio yang sudah dibakar setelh dipakai bersembahyang kepada Dewa Langit. Selain bangunan utama kelenteng, di sebelah kanan ada dua bangunan sayap berukuran kecil dan sebuah bangunan besar semacam aula yang memiliki halaman luas. Bersebelahan dengan kelenteng itu kini ada Vihara Buddha Sasana dan Viharaha Parjna Maitreya yang sewaktu kunjungan sepertinya belum lagi ada. Sepetong pemandangan ke arah ruang utama di lantai satu Kelenteng Seng Bo Kiong dengan pijar lampu bohlam di sejumlah tempat, dan pendar cahaya dari nyala lilin berukuran puluhan atau mungkin ratusan kati yang menjadi ciri khas kelenteng. Sebuah hiolo dengan bahan logam dan ukiran naga yang amat indah terlihat menggantung di ruang utama kelenteng. Ukiran pada hiolonya bisa dibilang kelas satu, sangat detail dan elok. Tradisi membakar hio atau wewangian tidak hanya dikenal di kebudayaan Tiongkok, namun juga di Jawa dan di banyak tempat lainnya dimana kepercayaan tradisional masih terjaga. Di Jawa, membakar dupa dilakukan agar asapnya yang membubung ke angkasa dan berbau harum itu bisa menjadi tali pengikat rasa untuk menyembah kepada Pencipta dan Penguasa Alam Semesta. Membakar hio atau dupa yang mengeluarkan asap dan menyebar wewangian merupakan cara untuk membangun suasana khidmat saat berdoa. Altar utama yang berada di area tengah ruangan di lantai pertama Kelenteng Seng Bo Kiong, diperuntukkan untuk memuja Thian Sian Seng Bo, yang adalah dewi laut, dewi pelindung para pelaut dari bahaya selama mengarungi samudera agar selamat sampai ke tempat yang dituju dan kembali pula tanpa kurang suatu apa. Ini bisa dimengerti karena Bitung adalah kota yang terletak di tepian pantai Konon Laksamana Ceng Ho, meski muslim, saat berlayar selalu memimpin upacara sembahyang untuk memohon perlindungan keselamatan kepada Thian Sian Seng Bo (Mak Co, Mazu). Pada pelayaran ketiga di tahun 1409, Cheng Ho dikabarkan singgah di Pulau Mei-chou dan mengadakan upacara sembahyang di kelenteng Mazu. Prasasti peninggalan Cheng Ho masih bisa dilihat di Zhan-le, Provinsi Fujian. Karena keberhasilan misi Laksamana Cheng Ho adalah karena berkatnya, Mak Co mendapat gelar Tian Fei atau Bunda Suci dari Surga di Langit yang diberikan pada tahun 1417 oleh Kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Altar untuk memuja Hok Tek Tjeng Sin, yang juga disebut Tho Te Kong, Dewa Bumi, salah satu dewa yang paling dipuja dan patungnya bisa ditemukan di semua kelenteng di dekat pasar tua di kota dimana ada orang Tionghoa tinggal, karena ia dipercaya sebagai pemberi rezeki dan pembawa kemakmuran. Altarnya berada di ujung kiri ruang utama kelenteng. Di altar ini pengunjung biasanya membakar 5 batang hio agar usaha dagangnya laris dan membawa berkah. Altar yang dipergunakan untuk bersembahyang memuja Kwan Seng Tek Kun, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kwan Kong (Guan Gong), terletak di pojok sebelah kanan ruangan Kelenteng Seng Bo Kiong. Kwan Kong adalah seorang Jenderal masyhur yang hidup di jaman Tiga Negara (Sam Kok, tahun 165 – 219 Masehi). Ia dipercaya telah mencapai kesempurnaan, dengan gelar Bodhisatva Satyakalama Kwan Seng Tek Kun (Guan Sheng Di Jun).

Altar untuk memuja Dewi Kwan Im kami lihat ada di lantai tiga Kelenteng Seng Bo Kiong, dengan sebuah hiolo indah diletakkan di depan altar. Ada pula altar pemujaan bagi Tri Nabi Agung, yaitu Lao Tze (Lo Cu), Kong Tze (Kong Hu Cu) dan Buddha, yang berada di lantai dua Kelenteng Seng Bo Kiong. Sebuah hiolo kecil indah terlihat di altar Tri Nabi Agung.

 

Kelenteng Seng Bo Kiong bisa anda kunjungi ketika sedang berada di kota Bitung, Sulawesi Utara, apakah untuk berziarah dan bersembahyang atau pun sekadar mengagumi dan merekam keindahan bangunan dan isinya. Kota Bitung berjarak sekitar 45 km dari Kota Manado bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu jam.

Seiring dengan perkembangan populasi penduduk dan jumlah kendaran yang bertabah begitu pesat, tadinya perjalanan dari kota Manado atau Bandara Samratulangi hanya ditempuh dengan waktu 1 jam kini paling cepat 2 jam tiba di Bitung ini dikarenakan kondisi jalan masih seperti tahun sembilan puluhan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui program pelebaran jalan atau program jalan tol berusaha mengatasi kemacetan ini, apa sebab akses jalan yang diutamakan karena Kota Bitung merupakan pintu perdagangan Internasional dan juga akses menuju ke seluruh nusantara.

Laporan : Arimin JW

Foto dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *