“AKU & S.H. SARUNDAJANG” OLEH Drs. SAMUEL MUHALING MANTAN WARTAWAN SURAT KABAR CAHAYA SIANG

Bitung, Baraberita.com – Selasa, 23/02/2021 – Sedih hatiku ketika beliau harus pergi selamanya. Banyak kisah suka dan duka dengan beliau. Aku jadi “Besar” sebagai wartawan di Bitung karena  beliau. Sebagai Wali Kota Bitung ia pernah membentak saya tapi lebih banyak ia “Merangkulku”. Membentak dan membelaiku tapi tidak pernah sepeser pun dana APBD keluar untuk membayar profesi wartawan.

Malah saya diberi ruangan khusus sebagai Kantor Biro Bitung. Walau ruang kerja biro Bitung hanya bersebelahan dengan ruang Kabag Humas, almarhum Dolfi  Sendouw, BA dan tidak jauh dari ruangan Kakan Bangdes Drs. Maximiliaan Jonas Lomban  tapi tidak menghalangi saya melakukan kritik terhadap pemerintah kota Bitung. Dikritik, tapi tidak pernah ia membayar saya untuk membungkam profesi saya. Tidak seperti sekarang.

Ada hutang budiku yang belum terbayarkan pada beliau. Ketika saat pertama menjadi PNS tahun 1991 dan ditempatkan di SMA Negeri Tompaso, (bertetangga dengan pak Drs. Boyke Rompas yang saat itu sebagai Camat Tompaso), almarhum merasa sangat kehilangan diriku. Karena itu, walau tanpa permintaan atau pun rengekan saya, ia menelpon langsung Kakanwil Depdikbud saat itu, Drs. Hengky Sumuan untuk. memutasikan saya ke Bitung. Bahkan ia memerintahkan Sekot almarhum Drs Bramy Mussu untuk bicara langsung dengan Kakanwil Depdikbud (kebetulan mereka 1 kolom pelayanan Jemaat GMIM) agar memindahkan saya ke Bitung.

 Almarhum  Bramy Mussu pun meminta kopian SK CPNS saya. Hasilnya, Kakanwil memerintahkan Kepala Bidang Pendidikan Menengah untuk memanggil saya menghadap untuk proses mutasi. Saya menghadap dan memberikan saya kebebsan memilih sekolah mana. Namun saya katakan, terserah.mau tempatkan di mana saja di Bitung, karena  ini bukan permintaan saya melainkan permintaan Wali Kota.

Akhirnya saya menerima SK mutasi pada Desember 1993 dan ditempatkan di SMA Negeri Girian (sekarang SMAN 1 Bitung). Di situ saya menjadi guru salah seorang anak beliau, Fabian Sarundajang.

Saya sempat jadi kikuk karena hanya urusan memutasi saya harus melibatkan banyak pejabat. Namun semua itu bukan “suap” untuk membungkam profesi wartawan  yang masih melekat pada diriku saat itu.

Terima kasih Dr. Drs. Sinyo Harry Sarundajang “Guruku” terima kasih pamongku. Terima kasih, engkau satu-satunya Wali Kota Bitung yang menghargai saya lebih.

Laporan : Arimin JW

follow :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *